ada lagu lama yang tiba2 aku suka, …. lagu ini kalo gak salah dibawakan oleh Dewi Yull, judulnya “Terus Berlari”
KULIHAT SEMUA ORANG, PERGI MEMBURU BAYANG-BAYANG
AKU LIHAT DIRIKU, TERKURUNG DIBATAS WAKTU
DAN KULIHAT DIBATAS DUNIA, SUKMAKU DALAM GELISAH
KUKATAKAN PADA DIRI, INIKAH KUHADAPI.
KU AKAN TERUS BERLARI, WALAU ANGANKU TAK PASTI
KUCAPAI KAWAN HIDUP DALAM USIAKU INI..
KUHARUS TETAP BERLARI, KU IKUTI MATAHARI
SMANGAT HIDUPKU TAK KAN PERNAH MATI..
JALAN PANJANG YANG KULALUI. PENUH DUSTA DAN PENUH DURI
TAPI DAKU TAKKAN SEMBUNYI , WALAU HANCUR KAN KUNIKMATI
KARNA HIDUP BEGINI INDAH, SGALA DUKA KU TAK MENYERAH
WALAU JATUH DAN JATUH LAGI, DAKU TAK AKAN PEDULI
AKU KAN TERUS BERLARI,
KUIKUTI MATAHARI
ANGAN DAN HARAPANKU LUAS MEMBENTANG TINGGI.
DAN AKU TETAP BERLARI,
WALAU ANGANKU TAK PASTI
SMANGAT HIDUPKU TAKKAN PERNAH MATI.
….. beberapa waktu ini pikiranku penuh dilanda oleh kebimbangan …. bukan kebimbangan biasa, …. tapi kebimbangan atas sesuatu yang akan benar2 merubah fase hidupku …. hehehe tapi disini aku bukan ingin menceritakan tentang kebimbanganku, tapi curhat ttg suatu makhluk yang namanya comfort zone [ya berkaitan deh dengan kebimbanganku].
seringkali kita terjebak secara sadar or ga sadar pada makhluk ini ….
seringkali kita gak mau keluar dari zona ini karena menganggap apa yang kita lakukan sekarang adalah sesuatu yang terbaik, teraman, or emang udah ditakdirkan ….
seringkali kita takut untuk menggapai suatu cita karena kita takut untuk meninggalkan zona nyaman kita …..
seringkali kita takut untuk berjuang meraih sesuatu yang lebih baik karena zona itu juga ….
seringkali kita menganggap suatu pencapaian / keberhasilan orang lain merupakan sesuatu yang mustahil kita raih …. sesuatu yang impossible for us to achieve …..
sesungguhnya perlu sekali2 kita renungi, apa benar sesuatu yang kita inginkan itu mustahil? impossible? …. faktor apa yg menyebabkan seuatu itu mustahil bagi kita?
karena orang lain kah? atau karena batasan2 yang kita buat sendiri?
karena takdirkah? atau karena ketakutan / trauma kita sendiri?
lama kupikir tentang masalah ini …. ternyata aku selama ini mengekang banyak citaku bukan disebabkan oleh orang lain,… bukan juga disebabkan oleh takdir ….. tetapi disebabkan oleh trauma dan batasan2 yang aku buat sendiri ….
kalaupun dalam proses nanti aku harus berjuang dari nol, harus memulai dari bawah, harus menjadi sesuatu yang jelek ….. biarlah …
segala sesuatu yang bagus n cantik harus melewati fase yang jelek …
bagaikan kupu2 yang dihasilkan dari ulat yang berubah dulu menjadi kepompong ….
kalau aku gak mau berubah menjadi kepompong, selamanya aku hanya akan menjadi ulat … bukan kupu2 …
Alhamdulillah aku udah memutuskan untuk menggapai cita yang lebih tinggi, berjuang untuk meraih sesuatu yang lebih baik …. meninggalkan zona kenyamananku …
sekarang bagiku impossible is nothing ….. impossible adalah I’m possible …..
sbenernya ya… pas ak nikah dulu tu.. ak jg meninggalkan zona nyaman lho. orang lain nikah mungkin bahagia ya, tapi ak kok sedih. pas habis malam midodareni tu rasanya sedih banget. yg paling sedih pas pertama kali aku dibawa pergi ama suamiku. naek kreta ke jakarta, dianterin ama ortuku sampe stasiun. nah, itu rasanya sediiiiiiiiiiiiih banget. aku selama ini udah enak2 aja hidupnya, tiba-tiba harus hidup susah.
, kalo ga mau meninggalkan comfort zone ya ga bisa berkembang. toh definisi “comfort” dan “ga comfort” tu kan kita sendiri yg bikin. yah anggap aja semua hal adalah comfort huehehehe. jadinya isinya cuma ketawa-ketawa bahagia doank.
tapi ya begitulah
Comment oleh andian — Oktober 8, 2006 @ 1:50 pm
ikutan nimbrung!!
bocah udh mulai ninggalin comfort zone juga.
blajar melakukan hal yang BOCAH PALING ANTI….
apa tuuy? masarin sesuatu ke orang (kan jlnin HD nih)
sbenernya bocah sadar total, kl MLM itu bagus (asal bener)…tapi bocah bener2 takut untuk mulai
takut ditolak
takut gagal
takut ga bisa ngomong….
tapi itu dulu….
skarang bocah udh mulai blajar ngmong, rajin senyum ke orang…dll dll..
bocah pengen terbang tinggi….
ninggalin comfort zone sementara untuk menuju zone yg jauuuuuuuuh lebih comfort
Comment oleh BoCaH — Oktober 8, 2006 @ 2:05 pm
first step is always the hardest one…
Comment oleh ratih — Oktober 9, 2006 @ 3:03 am
Hmmm…. How bout this?…. “Leaving the old comfort zone to the “new” comfort zone… Jadi cukup pindah2 aja dari CZ satu ke CZ lainnya… and gak perlu masyuk ke suffer zone………. heheheehehehe iya ngga git?
Comment oleh AdamNdut — Oktober 9, 2006 @ 4:14 am
lha dam dam, kalo emang bisa yang kaya loe mah gw juga mau kekekekeke
Comment oleh alit — Oktober 10, 2006 @ 4:59 pm