Jatuh lagi ….
Cuaca lagi ….
Nasib lagi ….
Pesawat Adam Air nyusruk di Sulawesi, menambah catatan dalam daftar pesawat yang mengalami kecelakaan.
Sebelum KNKT mengeluarkan pernyataan kemungkinan penyebab jatuhya pesawat [yang secara aturan, kalo gak salah ya emang gak boleh jadi konsumsi publik tapi hanya boleh dikonsumsi oleh pihak2 tertentu yaitu otoritas penerbangan, pembuat pesawat, dan operator penerbangan], beberapa orang yang berkepentingan langsung menuduh hukum alam yang ditulis oleh Tuhan; yaitu cuaca; sebagai penyebabnya. Terlepas benar atau tidaknya, seharusnya statement ini masih amat terlalu sangat dini untuk dikeluarkan dan bahkan tidak selayaknya untuk dikeluarkan karena ini adalah sebuah bentuk pengarahan opini and politisasi.
Penyebab kecelakaan bukan hanya mungkin disebabkan oleh cuaca, bisa juga disebabkan oleh human error, poor maintenance, kesalahan desain pesawat, dan lain sebagainya. Cuaca paling sering dipilih sebagai alasan di Indonesia hanya karena cuaca tidak bisa membela diri …. hati2 loh nuduh2 cuaca, itu namanya fitnah karena gak disertai oleh bukti2 yang akurat.
Penyebab kecelakaan juga mungkin disebabkan oleh gabungan beberapa faktor sekaligus.
Well terlepas dari penyebab sesungguhnya dari peristiwa Adam Air ini, yang pasti kejadian ini membuat suatu hantaman yang cukup telak bagi yg namanya low-fare airlines di Indonesia. Low-fare airlines ini bukan low-cost airlines. Tapi low cost-airlines sudah pasti low-fare airlines.
Alit hanya ingin sedikit ngoceh tentang salah satu faktor yang berkaitan dengan keselamatan pesawat, yaitu mindset management airlines.
1 hal yang sering dilupakan oleh management ini adalah sesungguhnya sebuah airlines itu bukan menjual tiket tempat duduk ….. tetapi menjual kepastian seorang penumpang mendarat dengan selamat di bandara yang dituju.
Southwest Airlines di Amerika sebagai pelopor low-cost carrier membangun konsepnya dengan tetap berintikan keselamatan. Low cost didapatkan bukan dengan “menekan” maintenance cost, tetapi dengan “mengefektifkan” maintenance cost. Hal ini bisa dicapai dengan berbagai macam cara.
Kebanyakan Airlines di Indonesia bukan berusaha “mengefektifkan” maintenance cost, tetapi berusaha “menekan” maintenance cost.
Gara2 hal ini pula, Alit sering berdebat dengan momochan mengenai pilihan Alit yang sering menggunakan GA dibandingkan Airlines lokal lain. Bukannya gaya deh, tapi safety itu nomor 1. Memilih GA pun bukan berarti karena GA bagus …. tetapi memilih yg lumayan diantara yg busuk.
Kalo menurut momochan, mbok ya Alit tuh naek aja pesawat murah kalo PP dalam negeri, gaksah naek GA yang harganya emang mahal. Toh soal selamat atau gak ya tergantung suratan takdir Yang Maha Kuasa.
Ini bukan masalah takdir, tapi kalo menurut Alit ya orang mesti berusaha maksimal untuk meminimalisir risiko. So udah saatnya pemerintah / petinggi negara ini mengarahkan airlines ke jalan yang benar …. bukannya diem aja gara2 gara2 dikasih saham or posisi di airlines tersebut …. hiks endonesah endonesah