Value Added Life

November 22, 2006

Politik …. Kotor / Bersih?

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 4:52 am

Baru aja selesai ikutan musyawarah daerah sebuah organisasi remaja berorientasi kebangsaan yang aku ikut aktif sejak SMU.

Pada kesempatan itu, ada proses pemilihan ketua umum untuk masa jabatan 4 tahun ke depan. Ada satu fenomena menarik tentang politik kotor yang dipraktekkan oleh beberapa oknum.

Ketika aku menyuarakan protes keras secara resmi didalam forum terhadap oknum2 tersebut, timbullah polemik di persidangan. Sebagian tidak menyetujui, sebagian lagi menyetujui protesku.

Bagi yang tidak menyetujui protesku alasannya adalah bahwa politik kotor itu sudah biasa dilakukan, mbok ya kita2 ini berlatih untuk menghadapi hal seperti itu. Bahkan salah seorang yang sudah senior dan turut aktif di sebuah parpol menyuarakan bahwa keadaan politik di “dunia nyata” lebih parah bahkan bisa dengan taruhan nyawa.

Justru ini yang menjadi masalah menurutku …. ketika dalam tahap pembelajaran politik, sesuatu yang kotor sudah bisa dimaklumi …. maka apa hal itu bukannya mendorong bagi para oknum untuk melakukan hal yg minimal sama kotornya di politik “dunia nyata?”.

Tugas kita yang tahu bahwa itu salah untuk memberitahu pada si oknum tentang kesalahannya … bukan dengan memakluminya. Oknum2 itu notabene adalah generasi penerus bangsa … lha ya kalo gak dibenahin dari awal … mo sampe kapan kita akan terus berkutat dengan politik kotor?

Politik itu ibarat pisau dapur … bisa digunakan untuk kebaikan [masak] atau kejahatan [membunuh orang] …. tugas kitalah untuk mengajarkan kepada adek2 dan anak2 kita kelak bahwa pisau dapur itu walaupun bisa dipake untuk membunuh orang … tetapi penciptaan sesungguhnya adalah untuk berfungsi sebagai alat bantu masak.

fiuh ..

Oktober 10, 2006

yang penting kulitnya men!!!

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 5:57 pm

Bulan puasa emang merupakan bulan yang ditunggu2 oleh berbagai macam kalangan dan golongan …..

buat orang yang emang niat tulus beribadah, sekarang adalah saatnya menimba amalan sebanyak2nya dan juga meminta pengampunan……
buat orang yang emang doyan makan, sekarang adalah saatnya melakukan wisata kuliner karena munculnya banyak warung dadakan dengan menu beraneka rasa …..
buat orang yang suka begadang, sekarang adalah saatnya begadang dengan banyak temen, maklum yang ronda buat bangunin sahur khan banyak …..
de el el

katanya ……
inti dari puasa adalah menahan diri [katanya sih] …… tapi coba kita lihat salah satu fakta dinegara kita tercinta ini ….. inflasi dadakan terjadi di bulan puasa, apalagi menjelang lebaran ….. inflasi khan arti sederhananya adalah kenaikan harga, bisa terjadi gara2 kelangkaan barang2 atau permintaan masyarakat yang meninggi … atau bisa juga kombinasi keduanya …. kalo untuk kasus inflasi pada bulan puasa, secara intuitif aja kita bisa tahu kalo inflasi ini akibat dari permintaan yang meninggi ….. kalo demikian dimana esensi menahan dirinya?????

kalo dibulan2 biasa, makan malam cukup dengan telor dan sambal, tapi kalo bulan puasa itu setidaknya ada es kelapa muda, atau kolak, atau bubur sumsum, kue2an de el el sebagai penambah menu makanan pokok ….. kalo demikian dimana esensi menahan dirinya????

yang lebih aneh bin ajaib lagi adalah adanya kalangan yang menerapkan pengujian terhadap diri kita dalam hal menahan nafsu ini justru dengan cara membabat habis godaan [yang sebenernya juga bukan godaan] bukan dengan cara menghadapinya …… ya contohnya penggerebekan warung makan itu ….. wong buka warung makan halal kok malahan diharamkan oleh kita2 … waks ….

itulah endonesah, puasa itu sekedar tradisi bukan lagi penyebaran esensi

Oktober 8, 2006

kambing item

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 11:50 am

http://wildlife-fantasy.com

aku yakin kalo kita semua itu paling sebel ngelihat orang yang sukanya mencari kambing hitam atas segala kesalahannya, padahal kita semua terkadang juga melakukan hal yang sama…..

“jelas aja gw telat, maklum jakarta macet” –>padahal tinggal jalan lebih awal
“jelas aja gw lulusnya lama, …. dosen gw killer2″ –> padahal emang susah belajar
“jelas aja gw ngobat, khan gw broken home” –> ni paling gak nyambung ni

secara gak sadar sbenernya kebiasaan pengkambing hitaman ini sudah diajarkan semenjak kita masih kecil oleh orang tua kita [atau jangan2 kita juga udah mulai ngajarin ke anak kita]

kok bisa? lha coba perhatiin deh kalo ada anak kecil atau mungkin kita inget2 waktu dulu masih kecil …. khan anak kecil itu sukanya lari2 …… secara keseimbangan badan belum bagus ya lari2 ini biasanya diakhiri dengan jatuh dan benjol2 ….

nah coba kita inget2 atau introspeksi diri kita …. biasanya untuk menenangkan si kecil, si mami n papinya suka memukul dinding / tanah yang ngebikin si anak benjol sambil bilang “nakal nih tanahnya … udah kamu diem ya, tuh tanahnya udah mami pukul”

nah loh … salah apa coba si tanah? wong si kecil jatuh gara2 dia lari2 n belum punya keseimbangan yang bagus kok ….

well kadang2 hal kaya gini tuh terlepas dari pengamatan kita, mungkin hal ini cuman sebuah masalah kecil, tapi perlu kita inget bahwa dengan cara seperti itu si anak dengan sendirinya terdidik untuk mencari kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan olehnya

bener gak ya?

Februari 6, 2006

Dilarang Ngebakar Duit

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 10:38 pm

Pro dan kontra rokok dinegara ini memang merupakan contoh nyata dari buah simalakama (yang udah usang), dilarang rakyat mati (bener gak ya?)… gak dilarang ya rakyat juga mati. Bedanya hanya terletak dimasalah jumlah dan waktu.
Image hosting by Photobucket
Kalau dilarang (katanya) yang bakalan mati adalah para buruh rokok yang jumlahnya ratusan ribu (katanya), para petani tembakau, petani cengkeh, pengusaha rokok, industri kertas rokok, n jangan lupa pemerintah.Kalau tidak dilarang yang bakalan mati adalah orang – orang yang tiap hari terpaksa menghirup hembusan rokok milik orang lain, yang mencakup pelayan restoran, anak – anak, penjual makanan di terminal, pejalan kaki, pekerja kantoran, dst …. n jangan lupa para perokok dan semua yang terlibat didalam industri rokok itu sendiri.

Kalau dilarang (kemungkinan) sebagian korban pelarangan rokok akan mati (relatif) cepat. Mengingat para korban ini mati karena kehilangan mata pencaharian terutama para buruh dan petani (wong cilik). Hal ini seringkali dijadikan oleh alasan para pengusaha yang sesungguhnya mengeruk keuntungan paling banyak dari penjualan rokok. Mereka berlindung dibalik kenyataan bahwa usaha mereka ini membantu rakyat sekitar karena memberikan lapangan pekerjaan yang luas. Sebenarnya hal ini juga patut dikaji lebih lanjut. Mungkin industri rokok zaman dulu adalah industri yang padat karya, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi, industri rokok bukan lagi merupakan industri padat karya tetapi sudah dipenuhi oleh mesin – mesin pengganti tenaga manusia yang lebih irit dan efisien sehingga memangkas biaya dan menaikkan produksi. (Gak percaya? ya monggo survey aja sendiri).

Pemerintah juga “seakan-akan” menutup mata terhadap kenyataan ini, dengan berkilah bahwa dengan dinaikkannya cukai rokok maka harga yang tinggi akan menyebabkan para perokok terseleksi secara alami (baca: berkurang) dan dengan demikian pangsa pasar industri rokok mengecil hingga akhirnya hanya akan ada industri rokok yang telah terseleksi juga (baca: berkurang). Alokasi cukai rokok yang seharusnya juga untuk dana “penyembuh” akibat adanya industri rokok juga tidak jelas, kampanye larangan merokok dan penyadaran masyarakat terhadap kerugian yang didapat akibat merokok masih sangat kurang, paling-paling hanya sekedar tulisan Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin di setiap kemasan rokok n iklan rokok beserta turunannya. Tapi tulisan peringatan ini jelas amat sangat kurang kreatif n menarik perhatian pembacanya bila dibandingkan dengan iklan rokok yang semakin lama semakin keren n gaul (ini harus diakui) apalagi iklan – iklan tersebut mengaitkan merokok dengan citra kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, dan kekompakan.

Foto diatas adalah salah satu bentuk peringatan pemerintah Thailand bagi para perokok, dibandingkan dengan tulisan kecil yang belum tentu dibaca, peringatan dijelaskan secara visual melalui gambar yang memenuhi setengah bungkus bagian depan, well secara pribadi sih aku juga lebih sreg dengan peringatan yang model begini, at least untuk membeli rokokpun jadi agak jijik n risih ngeliat gambarnya. Lebih bagus lagi kalau dibungkus itu juga ditunjukkan data up to date orang yang meninggal karena kanker paru-paru.

Kembali ke permasalahan pelarangan rokok akan menyebabkan kematian (cepat) dari wong cilik. HAL INI PATUT DIBANTAH & DILURUSKAN. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh WHO n disebutkan juga di artikel pdpersi tertanggal 25 May 2004 bahwa 84% dari total 1,3 trilyun perokok didunia berasal dari negara dunia ketiga. Nah penduduk negara dunia ketiga ini mayoritasnya jelas adalah masyarakat tidak mampu. So? What’s the point? The point is YANG PALING DIRUGIKAN KARENA ROKOK ADALAH WONG CILIK.

Banyak “masyarakat tidak mampu” yang menjadi konsumen setia rokok. Hal ini dikarenakan adanya output semu bahwa merokok mampu menghilangkan beban kehidupan dunia, meringankan penderitaan, kepuasan, menahan lapar dsb. Padahal output semu ini amat sangat tidak sebanding dengan output nyata, yaitu kemungkinan timbulnya berbagai penyakit akibat rokok, kanker (kantong kering), gangguan terhadap orang lain. lebih jelas tentang zat-zat yang berbahaya yang ada dalam rokok, monggo dilihat di salah satu website kesehatan or disini

So intinya bahwa pelarangan rokok akan menyebabkan kematian bagi wong cilik amat sangat tidak beralasan !!

Larangan merokok di tempat umum sebagaimana telah dituangkan dalam PERDA tentang Pengendalian dan Pencemaran Udara memang bagus tetapi disatu sisi juga merupakan lelucon tersendiri. Denda Rp. 50 Juta bagi pelanggar? Memang jumlah ini kalau dilihat secara nominal amat sangat besar sehingga diharapkan akan memberikan dampak ketakutan bagi calon pelanggar. Tetapi sesungguhnya jumlah sekian itu justru memudahkan adanya penyelewengan pada tingkat pelaksanaan, mengingat mental para penegak hukum kita dan pelanggar hukum kita yang memiliki tepa selira tinggi sehingga uang denda hanya sedikit dan masuk kantong petugas (siapa yg mau protes???).

Secara pribadi, denda yang bagus untuk diterapkan adalah denda dengan jumlah nominal tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit tetapi juga denda terhadap harga diri si pelanggar. Sebagai contoh denda sebesar Rp. 50.000 dan push up di tempat kejadian dan sebagainya. (efektif gak ya kira2?)

So …. Mari Setop Bakar Duit (mendingan yang kaya gini yang ditulis dibungkus dibandingkan tulisan peringatan pemerintah yang sekarang n juga kalo perlu ditambahin gambar yang kaya di kemasan rokok Thailand)

Desember 29, 2005

Lelaki (tidak) ditakdirkan menjadi pemimpin bagi wanita

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 11:21 pm

Banyak cowok yang gak suka ama cewek yang lebih pinter dari dia, …… tapi kalo gak smart juga gak suka, maklum nanti malu kalo diajak ke pertemuan bisnis de el el ….. (dengan kata laen, cowok suka ama cewek smart yang gak lebih pinter dari dia)
Banyak cowok yang gak suka ama cewek yang punya penghasilan lebih dari dia, …. tapi kalo punya warisan or harta bawaan banyak ya gak papah ….. (dengan kata laen, cowok suka ama cewek yang kaya tapi penghasilannya lebih kecil dari dia)dohh pernyataan “menyesatkan” ini seringkali didengungkan oleh beberapa temen yang katanya memperjuangkan hak – hak n asas kesamaan wanita dengan pria n ampe bosen ngedengernya …. n lebih ekstrimnya lagi, kadang2 kata banyak didepan 2 pernyataan itu dihilangkan.

sekarang pertanyaannya:

apa bener begitu?

pengertian banyak ini seberapa sih ? 68%, >50%, kurang dari 90%?

Well; terlepas dari angka2; mungkin memang ada cowok yg berpikiran seperti sebagaimana 2 pernyataan diatas. N Moga2 aku gak termasuk ke golongan yang begitu.Amin

Katanya sih laki-laki itu memang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin bagi para wanita, kadang2 pernyataan ini juga mendapatkan gejolak yang cukup keras dari para wanita yang merasa dirinya mampu [n mungkin emang punya kemampuan] untuk jadi pemimpin, yang merasa dirinya mampu [n mungkin emang punya kemampuan] untuk survive tanpa lelaki.

Well;terlepas dari benar tidaknya; aku termasuk yang mendukung pernyataan bahwa lelaki memang ditakdirkan menjadi pemimpin bagi wanita.

Lelaki menjadi pemimpin bagi wanita apakah karena laki2 itu lebih superior dari wanita, lebih kuat dari wanita, lebih perkasa dari wanita, lebih segalanya dari wanita, atau karena Adam diciptakan terlebih dahulu dibandingkan Hawa?

Dengan tegas aku jawab TIDAK, bukan itu jawabannya. Tuhan itu Maha Adil, laki-laki dan wanita itu setara, sesungguhnya takdir laki-laki untuk menjadi pemimpin itu adalah sebuah pembagian hak dan kewajiban demi menunaikan tugas. Tugas yang mulia demi menjaga amanat yang diturunkan semenjak zaman nabi Adam. Tugas itu adalah menjadi penjaga kelestarian dunia yang kita tinggali ini.

Menjadi pemimpin mungkin kelihatannya lebih “wah” karena memiliki status. Tapi pernahkah disadari bahwa pemberian status ini sesungguhnya adalah sebuah cobaan dan ujian yang teramat sangat berat? Yang sesungguhnya bukan merupakan “HAK” tapi merupakan kewajiban.

Kewajiban untuk mengarahkan semua yang dipimpinnya tetap berada dalam jalan kebenaran. Kewajiban untuk memberikan nafkah lahir dan bathin bagi yang dipimpinnya.
Kewajiban untuk melindungi kaum yang yang dipimpinnya.
Kewajiban yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Sang Pencipta.

Apakah wanita tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan untuk menanggung kewajiban sebagai pemimpin?

Sesungguhnya wanita memiliki kemampuan, tetapi sesungguhnya pula telah dibebankan kepada mereka itu kewajiban lain yang tidak kalah mulianya, tidak kalah nilainya, tidak kalah beratnya.

Sesungguhnya telah turun satu kewajiban bagi mereka bukan untuk menjadi pemimpin, tetapi untuk mengandung [dengan segala penderitaan yang tidak dialami oleh lelaki], melahirkan [bertarung nyawa], dan membentuk akhlak bagi para pemimpin masa mendatang ataupun para calon ibu dan wanita bagi para pemimpin masa datang.

So bagi para wanita janganlah berkecil hati karena tidak diberi kewajiban sebagai pemimpin.
bagi para lelaki janganlah berbesar hati karena diberikan kewajiban sebagai pemimpin.

Mungkin hanya sekedar kiasan, tapi mungkin layak direnungkan, bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk lelaki [setara] agar saling memikul tanggung jawab. Wanita tidak diciptakan dari tulang kaki [dibawah] agar wanita tidak diinjak-injak oleh pria.

Juni 7, 2005

Pasal 1- sebuah renungan kecil bagi “senior”

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 7:43 pm

Pasal 1

Senior Tidak Pernah Salah

 

Pasal 2

Kalau Senior Salah Lihat Kembali Pasal 1

 

Kedua pasal tersebut merupakan pasal yang melalui konsensi umum para senior di berbagai pusat pelatihan, pendidikan, Ospek, de el el diterima sebagai peraturan absolut.

 

apa sih pemaknaan dari pasal tersebut?

 

sebagian senior memberikan pemaknaan bahwa pasal tersebut menjadikan mereka memiliki kuasa penuh atas sadar-pingsannya (bukan hidup-mati) para junior dibawah mereka.titik.

 

Nah, Mas Alit kurang sepaham dengan pemaknaan sebagian senior tersebut.

 

kenapa kurang sepaham?

 

Ada beberapa point yang membuat mas alit kurang sepaham, but kita bahas itu nanti.

 

Kalo gitu perlu gak sih ada pasal-pasal tersebut?

Perlu banget! Nah supaya gak bingung kita liat begini …. dalam suatu bentuk pelatihan atau penempaan atau apapun itu sebutannya, seorang junior harus mampu menyerap apa yg dilatih oleh seniornya … nah agar penyerapannya itu bisa berlangsung cepat n lengkap maka ego si junior ini harus diilangin terlebih dahulu soalnya ego ini dapat menghambat proses penerimaan tadi.
Nah kembali ke beberapa point yang mas alit kurang sepaham itu adalah kedua pasal ini terkadang digunakan oleh para senior dengan tidak bertanggung jawab. Sebenernya kedua pasal ini juga memiliki implikasi kewajiban bagi para senior, bukan hanya hak saja. Tetapi selama ini yang selalu diagungkan adalah hak para senior terkait adanya pasal – pasal tersebut.Kewajiban senior yg terikut dalam pasal tersebut itu sebenarnya bagaimana?

 

 

Selain penggunaan yang bertanggung jawab, kewajiban lain bagi para senior adalah terus menerus belajar dan memberikan contoh yang baik bagi para junior yang dilatih.
Senior tidak pernah salah khan bisa diartikan bahwa seorang yang merasa sebagai senior harus selalu benar dimata adik – adiknya. bagaimana caranya supaya selalu benar? ya tadi itu terus belajar dan berlatih.

Contoh dalam hal baris berbaris, terkadang aku suka ngenes sendiri melihat para senior ;yang galaknya amit amit kalo ngeliat barisan tidak rapi; ketika mereka berbaris dengan tidak rapi ….
“Maklum dek, kakak ini khan udah lewat masanya baris berbaris kaya gini lagi, perut aja udah perut bos – bos”….
lah kalo emang udah lewat masanya baris berbaris, ya udah mbok ya gak usah ngatur2 barisan lagi. kalo emang masih mau ngatur – ngatur barisan, mbok ya juga mampu mencontohkan.
Contoh dalam hal makan cepat, paling BT kalo ngeliat senior yang ribut banget disaat juniornya gak bisa makan cepat, sementara mereka sendiri sebenernya juga gak bisa makan cepat.
seharusnya yang namanya makan cepat itu bukan ditentukan dengan menggunakan menit, tapi ditentukan dengan lebih duluan mana yang selesai, juniornya atau seniornya?

dengan adanya para senior yang (berusaha untuk) selalu benar maka dijamin akan lahir para junior yang berkwalitas n respect terhadap seniornya tanpa adanya paksaan hingga kapanpun.

 

 

 

 

 

Mei 7, 2005

Belajar tuk berkata “aku tidak mampu”

Diarsipkan di bawah: Making the world a better place — alit @ 8:55 am

Sepertinya mudah untuk melakukan tetapi sebagian orang disekitar kita susah sekali untuk mengatakan “aku tidak mampu”, mungkin aku juga termasuk orang kebanyakan tersebut. Well, kenapa sih kayanya susah untuk membicarakan ketidak mampuan kita kepada orang lain? Ada banyak jawaban untuk ini “wah abisnya sebagai cowok, aku khan harus serba bisa didepan cewekku donk” …. “dooh, gimana ya? tengsin lagi kalo dicap gak punya kemampuan” … “gimana ya? aku khan butuh pengakuan” … n lain – lain.

Topik ini sebenernya muncul saat aku(A), titi(B), n vita (waktu itu vita udah turun dari taksi) dalam perjalanan pulang dari kuliah, n seperti biasa kita bertiga naik taksi bareng. Percakapan dimulai dari celetukan titi tentang adanya lowongan kerja disebuah produsen barang konsumsi terkenal.

B : “Denger-denger di Nestle lagi butuh tenaga marketing tuh!”

A : “lah, kamu gak mau daftar? khan kamu suka ama bidang marketing tuh, perusahaannya jelas lagi”

B : “dooh, kayanya gak deh, sibuk banget, kantornya khan jauh, sementara aku khan kuliah juga lagi ngurusin tesis, aku gak mau”

 

A : “yakin gak mau nyoba? siapa tau nanti karirmu justru lebih menanjak disitu dibandingkan diperusahaan sekarang”

B : “kalo cuman buat nyoba ya bisa aja, tapi untuk apa? toh aku yakin sekarang aku gak akan mampu menjalani, daripada semua urusan jadi berantakan mendingan aku gak perlu nyoba2 khan?” …… “Btw kalo dulu zaman2 smu atau S1, semua hal pasti gw coba, hehehe maklum masih berjiwa panas” ….. “tapi semenjak kuliah S2 ini, aku sedang belajar untuk berkata bahwa aku tidak mampu”

well mungkin banyak yang memandang bahwa percakapan itu biasa aja, malah mungkin tanpa makna yang jelas …. but bagiku kata2 belajar untuk berkata bahwa aku tidak mampu yang diucapkan Titi sangat2 memberi kesan mendalam buatku, mungkin kalau diucapkan oleh orang lain, jadi tidak terlalu bermakna, but karena diucapkan oleh seorang Titi, maka menjadi sangat bermakna …. kenapa? Titi ini termasuk manusia dengan tipe superior. Seorang manusia yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan kebanyakan orang.

Well mungkin tulisan ini tidak bermakna apa-apa bagi sebagian orang yang membaca (maklum mas alit tuh bukan seorang penulis yang pandai merangkai kata), but the point is … saat ini aku menyadari bahwa seseorang akan menjadi “lebih” disaat dia bisa mengetahui “ketidakmampuannya” … gak ada orang yang sempurna. Kalo ada yang berkeberatan ama pemikiran ini ya monggo aja. Toh ini hanya sebuah pemikiran pribadi yang tidak sempurna.

Blog pada WordPress.com.